Jadilah Bagian Dari Jawaban
Universitas Nusa Cendana (Undana) menggelar upacara Wisuda Doktor, Magister, Profesi, Sarjana dan Diploma Periode Pertama Tahun 2026. Acara yang berlangsung khidmat ini digelar di Graha Cendana, Kupang, pada Kamis pagi (26/2).
Wakil Gubernur NTT, Irjen. Pol. (Purn.) Dr. Drs. Johanis Asadoma, M.Hum., merupakan salah-satu dari 1.038 wisudawan yang diwisuda pada kesempatan tersebut. Sosok yang akrab disapa Johni Asadoma tersebut lulus sebagai Doktor Ilmu Administrasi dengan IPK 3,95.
Dalam kesempatan tersebut, Wagub Johni hadir memberikan sambutan mewakili pemerintah sekaligus menjadi perwakilan para wisudawan. Di hadapan ribuan lulusan dan orang tua, Wagub Johni ini menekankan bahwa wisuda bukanlah garis akhir, melainkan titik awal perjuangan yang sesungguhnya di tengah dinamika zaman.
Secara blak-blakan, Wagub NTT menyoroti realita pahit di dunia kerja. Diungkapkan bahwa saat ini terdapat sekitar 7.000 sarjana (S1, S2 dan S3) yang masih menganggur dan sedang mencari pekerjaan. Menurutnya, universitas ternama maupun IPK tinggi tidak lagi menjadi jaminan tunggal untuk meraih kesuksesan.
"Kita tidak kekurangan orang pintar, teori atau wacana. Yang kita butuhkan adalah generasi yang mampu mengubah pengetahuan menjadi solusi nyata untuk memecahkan persoalan masyarakat," lanjut Johni.
Dalam sambutannya, dipaparkan sejumlah tantangan krusial yang masih membayangi NTT, di antaranya Tingginya tingkat kemiskinan, rendahnya produktivitas daerah, belum meratany akses air bersih juga transformasi ekonomi yang belum memiliki nilai tambah.
Karenanya, beliau meminta para lulusan untuk tidak menjadi penonton di tengah kemelut tersebut. NTT memiliki banyak potensi luar biasa yang membutuhkan sentuhan inovasi kaum intelektual.
Sementara itu, Prof.Dr.Ir. Jefri S. Bale,ST,M.Eng. dalam orasinya di hadapan para wisudawan, menggunakan metafora unik dari papan catur. Bidak kuda (the knight), untuk menggambarkan bagaimana seharusnya seorang lulusan perguruan tinggi bersikap di dunia nyata.
Bidak kuda adalah simbol dari kemampuan melampaui kebuntuan. Berbeda dengan bidak lainnya yang bergerak lurus, kuda memiliki pola langkah khas yang memungkinkannya melompati hambatan.
"Kuda mengajarkan kita tentang inovasi dan keunikan cara berpikir yang out of the box. Ia tidak bergerak secara linear atau lurus-lurus saja," ujar Jefri Bale. Ia mendorong para alumni Undana untuk tidak terjebak dalam pola pikir konvensional saat menghadapi tantangan di masyarakat.
Lebih lanjut, Rektor muda itu menekankan pentingnya strategi penempatan diri bagi para lulusan baru. Mengutip taktik permainan catur, ia menjelaskan bahwa efektivitas seorang individu sangat bergantung pada di mana ia berdiri.
Seekor kuda akan sangat kuat jika berada di pusat papan karena mampu menguasai 16 kotak sekaligus. Sebaliknya, pada sudut kenyamanan, kuda akan menjadi lemah dan geraknya terbatas jika hanya berdiam di sudut papan.
Pesannya, agar para alumni tidak membatasi potensi dengan memilih jalan kenyamanan. Beradalah di tengah pusat perubahan, di tengah komunitas yang menantang, di tempat dimana keahlian bisa memberikan dampak maksimal.


