Warta Biro Barjas

Biro Pengadaan Barang dan Jasa Provinsi NTT

“Supply Chain Management (SCM) adalah aktivitas manajemen yang meliputi perencanaan, sumberdaya, produksi hingga pengiriman. Semua yang terlibat dalam identifikasi sumber daya dan pengadaan, konversi dan seluruh kegiatan manajemen logistik.”

Begitu buka Yanes Panie,S.STP,M.Pub.Pol dalam materinya, Pengantar Manajemen Rantai Pasok (SCM) pada kegiatan Se’i Sapi di ruang rapat Biro PBJ NTT hari ini, Selasa (19/7/2022).

Rantai pasok sendiri merupakan relasi sekumpulan organisasi. Secara langsung, dihubungkan oleh satu atau lebih aliran produk, jasa, keuangan atau informasi. Dari hulu ke hilir. Mendaratkan konsep besar ini, Yanes kemudian memberikan batasan defenisi. Mengenalkan beberapa istilah teknis, agar dapat dipahami.

Ahli Muda Analis Kebijakan itu kemudian menjelaskan keterkaitan antara Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah dengan Manajemen Rantai Pasok. Dilanjutkan, dengan penerapannya.

Disadari, kebutuhan untuk perencanaan, pengadaan, produksi dan pengiriman sektor bisnis juga hadir di berbagai instansi publik. Menyesuaikan tahapan proses tersebut, aktivitas pemerintah juga diarahkan, pada aspek manajemen yang sama.

Empat siklus utama itu dijelaskannya. Komponen penting dalam SCM, hingga para pihak yang terlibat. Termasuk, variasi rantai pasok di hilir tergambarkan. Penerapan SCM pada level strategis, taktis dan operasional.

Secara umum, persamaan pengadaan pada organisasi pemerintah dan organisasi bisnis ada pada tujuannya. Keduanya, memiliki tujuan yang sama. Mendapatkan nilai terbaik dari uang yang dibelanjakan.

Perbedaannya antara lain, pengadaan pada organisasi pemerintah bergantung ketersediaan anggaran, pada perioda waktu tertentu. Pembeda terpenting yaitu, organisasi pemerintah harus bisa meyakinkan warga. Memastikan uang publik, dihabiskan dengan bijak dan transparan. Bukan mencari keuntungan.

Akhirnya, tujuh kendala dan tujuh kunci sukses disarikan. Mulai dari persoalan hirarki birokrasi, kesulitan koordinasi lintas institusi, persetujuan anggaran legislatif, perencanaan dan penganggaran berbasis proyek kegiatan, ketersediaan tools, kendala kompetensi dan integritas.

Pengayaan modul baru ini, didapatkan dari respon setidaknya enam orang. Bambang dan Fredick berharap, ilmu ini dapat diterapkan. Mendukung tugas dan fungsi biro.

Lucius, melihat ambiguitas penerapan MSC dalam hubungannya dengan konsep triclke down effect. Pentingnya peran stakeholders dan relasi kuasa. Budi, menyoroti upaya mitigasi korupsi. Terutama pada pekerjaan konstruksi, ranah pemilihan dan kontrak. Hery, mempertanyakan kesesuaian MSC dengan model New Public Services. Pendapatnya, bahwa terdapat kecocokan penerapan yang lebih untuk organisasi swasta, bukan pemerintah. Rabin, menyoal pentingnya SCM dalam parktik dasar pengadaan. Waktu, menyudahi semua.

Diharapkan, setelah mengikuti pembelajaran gratis ini, seluruh ASN Biro PBJ NTT dapat memahami konsep dasar manajemen rantai pasok. Keterkaitannya dengan tugas pengadaan barang dan jasa pemerintah, juga penerapannya. Semoga berguna.

 

Artikel Lainnya :

Biro Pengadaan Barang dan Jasa

ProvinsiN T TNusa Tenggara Timur
Alamat
Sayap Timur Gedung Sasando Lt.2
Jl. El Tari No.52
Kota
Kupang
Nusa Tenggara Timur
Indonesia